ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Dwi Sulistiono, Kuliner "Ndeso" jadi "Modern"?

Dwi Sulistiono Owner Mie Des Kang Pothok
Terlahir sebagai putra asli Bantul, Dwi Sulistiono (27) tergugah untuk ikut meramaikan pasar kuliner Jogja dengan masakan “ndeso” khas tanah kelahirannya. Bersama sang istri tercinta Titia Nufi Nurfita (26), pasangan pengusaha muda yang belum lama menikah ini mengaku terinspirasi merintis bisnis kuliner untuk memperkenalkan mie des (mie pedes) khas Bantul ke jangkauan pasar yang lebih luas lagi.

“Selama ini mie des hanya tersedia di kecamatan Pundong, Bantul. Untuk itu kami sengaja mendirikan Mie Des Kang Pothok di kota Jogja, agar kedepannya pemasaran dari masakan ndeso ini bisa lebih luas. Target sasaran kami para mahasiswa di sekitar Jogja, sehingga ketika mereka kembali ke daerahnya masing-masing bisa menceritakan citarasa mie des khas Bantul,” ujarnya.

Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, Dwi yang berdomisili di Bantul sering mengajak teman kampusnya menikmati kuliner Mie Des di daerah Pundong Bantul. “Dulu waktu saya kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, ketika ada teman yang main ke rumah, saya selalu mengajak mereka mencicipi mie des. Dari situ saya melihat teman-teman saya tertarik dengan kuliner tersebut, dan kenapa tidak saya membawa kuliner ndeso ini ke kota Jogja,” jelas Dwi ketika ditemui Rabu, (29/7) yang lalu.

Bisnis kuliner mie desBermodalkan kepopuleran mie des di Bantul, Dwi memberanikan diri membuka warung di daerah Kota Jogja dengan menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta. “Hampir setiap ada hajatan, kita selalu menyajikan mie des. Sehingga dari awal, skill atau kemampuan sendiri saya sudah memilikinya dari awal. Untuk mie saya datangkan dari Pundong, Bantul, karena untuk mie sendiri hanya khusus diproduksi di sana. Modal awalnya dulu sekitar Rp 15 juta, untuk sewa tempat, pengadaan peralatan, dan renovasi tempat usaha,” begitu tambahnya.

Selama menjalankan bisnis kuliner mie des, Dwi mengaku masalah pemasaran menjadi kendala utama bagi dirinya. Mengingat belum banyak masyarakat Jogja yang belum mengenal mie des, Dwi mencoba memberikan sampel mie yang belum diolah dan menjelaskan kepada setiap konsumen bahwa mie ini terbuat dari sari pati ketela pohon.

“Kalau mie yang lain diproduksi menggunakan mesin, mie des sendiri diproduksi manual dari sari pati ketela dan bebas formalin ataupun borak. Produsen mie des yang ada di Pundong juga sudah mengantongi izin P-IRT, jadi satu porsi mie des bisa dijadikan alternatif untuk menggantikan nasi. Inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen,” katanya.
Mulai Menambahkan Varian Menu Baru

Warung Mie Des Kang PothokMeski belum genap 1 tahun berjalan, namun respon masyarakat Jogja bisa dikatakan sangat bagus. Banyak konsumen yang mulai menanyakan menu-menu unik lainnya dari Kabupaten Bantul. Melihat pasarnya mulai tambah, pengusaha muda ini pun tak mau melewatkan peluang yang ada. Ia bersama sang istri mulai menambahkan varian menu baru yaitu kuliner mie lethek dari Srandakan, dan wedang uwuh khas Bantul.

“Walaupun menu yang ditawarkan adalah masakan ndeso, tapi konsep warung Mie Des Kang Pothok ini bisa dikatakan lain daripada yang lain. Konsep awalnya berupa warung atau tempat nongkrong yang didesain sedemikian rupa, sehingga kalaupun yang datang konsumen mahasiswa atau kawula muda biasanya saya menambahkan live musik atau nonton bareng,” terang Dwi.

Melalui pemasaran online dan offline, saat ini Mie Des Kang Pothok bisa menjual sekitar 10-20 porsi setiap harinya. “Untuk saat ini omzet ataupun rata-rata porsi yang bisa kita jual masih berkisar 10-20 porsi, karena usaha ini baru kita rintis sekitar bulan Maret 2015. Dari bahan baku yang digunakan berkisar 2-3 kg mie des untuk satu malam dari pukul 17.00 – 23.00 WIB,” ungkap pengusaha yang saat ini juga berprofesi sebagai pendamping pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bantul tersebut.

Untuk menghadapi ketatnya persaingan pasar di bisnis kuliner, owner dari Mie Des Kang Pothok ini sengaja membawa kuliner ndeso ini ke pasar Jogja untuk menjawab rasa penasaran calon konsumen. Sebagai satu-satunya warung Mie Des di Kota Jogja, Dwi yakin kedepannya bisnis kuliner ini bisa semakin dikenal luas di kalangan masyarakat kota dan bisa membuka cabang di beberapa daerah lain, tentunya di luar Kabupaten Bantul.

“Yang terpenting, kami selalu menomor satukan kualitas. Baik dari segi rasa, ataupun dari bahan bakunya. Kita menggunakan bahan baku yang sudah ada izin P-IRT, dan menggunakan sayur-sayuran serta ayam dari pasar induk yang ada di Giwangan, Yogyakarta. Jadi, untuk kompetitor sendiri saya rasa tidak akan menjadi permasalahan bagi kami,” tutur Dwi di akhir sesi wawancara kami.(bisnisukm.com)

Peluang Usaha Budidaya Belut di Kolam Terpal

Peluang Usaha Budidaya Belut di Kolam Terpal, ya Usaha budidaya pembesaran belut merupakan salah satu usaha alternatif untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi atas daging belut yang bergizi tinggi. Usaha budidaya belut juga sangat mudah untuk dilakukan dan dapat menyesuaikan dengan kondisi lahannya walaupun hanya dengan kolam terpal. Usaha budidaya belut menjanjikan keuntungan besar bagi pelaku usahanya, belut juga memiliki potensi yang besar untuk diekspor ke beberapa negara karena permintaan akan daging belut masih sangat tinggi sementara untuk persediaannya belum cukup memenuhi.

Usaha pembesaran belut memang belum banyak dilakukan oleh masyarakat, hal itu tidak terlepas dari terbatasnya informasi mengenai bagaimana cara dan teknik budidaya belut. Padahal, dapat dikatakan bahwa budidaya pembesaran belut relatif cukup mudah.
Sekarang ini permintaan belut masih didominasi dari hasil tangkapan alam dan juga hasil budidaya yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Oleh sebab itu, peluang usaha untuk budidaya pembesaran belut masih sangat terbuka lebar.
Konsumen

Belut termasuk dalam jenis ikan tawar yang pasar nasional maupun internasionalnya masih sangat terbuka lebar. Belut atau jenis ikan ini memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi sehingga bisa diterima oleh pasar dengan baik dalam bentuk masih fresh atau segar maupun dalam bentuk olahan.

Belut memiliki kandungan gizi yang cukup baik bagi kesehatan tubuh manusia, diantaranya sebagai sumber protein dan sumber energi. Protein pada belut juga kaya akan beberapa asam aminoyang mempunyai kualitas baik seperti isoleusin dan leusin yang merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak serta menjaga keseimbangan nitrogen bagi orang dewasa. Selain itu juga berguna untuk perombakan dan juga pembentukan protein pada otot. Semoga artikel ini dapat Menginspirasi anda(bisnisukm.com)

9 Alasan Kenapa Wisata Grobogan Harus Dikunjungi

Kabupaten Grobogan kurang santer terdengar namanya, bahkan walau wilayahnya terhitung terluas kedua di seluruh Jawa Tengah. Mungkin malah kamu baru mendengar nama Grobogan kali ini — dan selama ini lebih familiar dengan ibukotanya, Purwodadi.
Padahal, Grobogan memiliki keindahan alam yang sungguh menakjubkan. Ada air terjun, gua, tempat pemandian, hingga lumpur dan api abadi yang bisa dituju hanya beberapa jam saja dari kota besar seperti Semarang dan Yogyakarta.
Untuk memperkenalkanmu lebih jauh dengan keindahan Grobogan, simaklah penuturan Danar Mustofa berikut ini. Semoga bisa menginspirasimu untuk pergi ke sana dalam waktu dekat ini. Inilah 9 Alasan Kenapa Harus Berkunjung ke Grobogan

1. Fenomena alam yang tak biasa milik Grobogan adalah Api abadi Mrapen, yang tak akan padam meski diguyur hujan

Api abadi
Gas dari dalam tanah kemudian tersulut api via id.wikipedia.org
Terletak di jalur Purwodadi-Semarang, 26 kilometer dari kota Purwodadi. Tepatnya di desa Manggarmas, kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Api abadi Mrapen ini merupakan fenomena geologi alam yang cukup langka, terbentuk karena adanya gas alam yang keluar dari dalam tanah lalu kemudian tersulut api. Diameternya sendiri sebenarnya mungil, sekitar 1,5 meter. Lalu ia diberi tumpukan batu kapur di atasnya agar tak berbahaya bagi para pengunjung. Disebut ‘abadi’ karena ia tak akan padam meski berjam-jam diguyur hujan.
Selain digunakan sebagai upacara obor pada hari raya Waisak, api abadi Mrapen juga banyak digunakan untuk acara pembukaan olahraga, dari SEA Games di Palembang sampai Asian Beach Games di China sampai Oman. Tak hanya itu saja yang bisa kamu temui di sini. Di dekatnya terdapat pula Batu Bobot, yang konon bisa mengabulkan segala permintaan bagi siapa saja yang dapat mengangkatnya sambil duduk.


2. Berkunjunglah ke Bledug Kuwu, dan saksikan letupan lumpur yang “anehnya” mengandung garam

Letu
Letupan lumpur di Bledug Kuwu
Bila kamu ingin melihat fenomena alam yang menakjubkan, pergilah ke Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Kamu akan disuguhi pemandangan lumpur yang meletup-letup. Tempat wisata ini terletak sekitar 28 KM dari kearah timur dari kota Purwodadi. Letaknya juga tak jauh dari api abadi Mrapen. Meski terletak berkilo-kilometer jauhnya dari laut, lumpur di Bledug Kuwu ternyata mengandung garam. Karena hal inilah masyarakat menganggap ada saluran bawah tanah yang menghubungkan Bledug Kuwu dengan Laut Selatan.
Bledug dalam bahasa Indonesia yang berarti letupan atau letusan, dan kuwu atau kuwur yang artinya tersebar. Memang ada beberapa titik yang akan meletupkan lumpur di kawasan secara berulang-ulang dalam rentang waktu 1-2 menit, dengan ketinggian 1 sampai 10 meter. Dan setelahnya, akan ada asap putih yang menyembul keluar dari letupan lumpur tersebut.
Jangan khawatir. Meski terlihat ada asap, lumpur di kawasan ini tidaklah panas sama sekali.


3. Keindahan alam asli Indonesia dapat kamu nikmati di Air Terjun Widuri

Air terjun ini terletak di Desa Kemaduh Batur, Kecamatan Tawangharjo, 19 kilometer sebelah timur laut kota Purwodadi, tepatnya di Jalan Raya Puwodadi-Blora.Sesampainya di perempatan Ngantrul, Tawangharjo, ambil jalan ke utara kira-kira 15-20 menit berkendara.
Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 40 meter, diapit oleh hutan jati dan persawahan yang masih asri. Akses menuju air terjun ini lumayan menantang. Pengunjung diharuskan berjalan kaki melewati area persawahan sebelum akhirnya sampai di air terjun ini. Tapi jangan malas dulu, karena pemandangan yang kamu lihat akan sebanding dengan total tenaga yang kamu keluarkan untuknya.


4. Konon jika mandi pada hari-hari tertentu di Sendang Coyo, wajahmu akan awet muda dan bercahaya

Segarnya pemandian
Segarnya pemandian di Sendang Coyo
Sendang, dalam bahasa Indonesia berarti kolam atau danau kecil, disebut Sendang Coyo karena konon dapat membuat orang yang mandi tepat di tengah malam satu Suro menjadi awet muda sehingga wajahnya bercahaya — alias cohyo. Air yang jernih dan segar, serta kedalamannya yang tak lebih dari 1 meter juga membuat sendang ini banyak dikunjungi oleh keluarga beserta anak-anak mereka.
Objek wisata pemandian ini terletak di Desa Mlowokarangtalun, sekitar 26 km arah tenggara kota Purwodadi.  Letaknya yang berada di tengah-tengah hutan jati tak lantas membuat tempat wisata ini sepi. Justru karena jauh dari hiruk-pikuk kota, tempat ini didaulat sebagai salah satu tujuan wisata favorit warga sekitar. Apalagi ketika bulan Ramadhan tiba, wah, yang kamu lihat adalah warga yang sedang mandi di seluruh sudut pemandian ini.


5. Nikmati damainya pemandangan alam dengan berpiknik di tepi waduk Kedung Ombo

Salah satu waduk terluas di Pulau Jawa
Salah satu waduk terluas di Pulau Jawa
Waduk Kedung Ombo merupakan waduk yang dibangun pada pertemuan Sungai Uter dan Sungai Serang. Terletak di Dukuh Kedung Ombo, Desa Gayat, Kecamatan Geyer. Waduk ini dibangun pada tahun 1985 sampai 1989, dan merupakan salah satu waduk terbesar di Pulau Jawa, karena dalam pembuatannya sendiri menenggelamkan 37 desa, dan 7 kecamatan, di tiga kabupaten berbeda, yaitu Sragen, Boyolali, dan Grobogan.
Kedung Ombo juga menawarkan wisata air dengan menngunakan perahu untuk para pengunjung. Bahkan arena bermain anak-anak juga sudah tersedia. Tak perlu khawatir jika kehabisan bekal, karena di pinggir waduk ini juga sudah banyak warung-warung makan yang menjajakan aneka makanan.


6. Grobogan juga memiliki banyak sekali gua menakjubkan, salah satunya Gua Urang

Salah satu wisata gua di Grobogan
Salah satu wisata gua di Grobogan
Gua Urang merupakan habitat hidup beragam jenis kelelawar. Kelelawar-kelelawar ini sangat berperan penting dalam pertanian di sekitar gua. Terletak di Kecamatan Tawangharjo, selain menyajikan stalagmit dan stalagtit, gua ini juga menyajikan pemandangan sungai bawah tanah. Tak heran jika tanah diatas gua begitu kering, karena memang air mengalir di dalam gua ini. Di dekat lokasi gua ini juga terdapat gua-gua lain seperti Gua Kembang, dan Gua Gelatik.


7. Sebelum pulang ke kota asal, nikmat dan gurihnya Sayur Becek bisa kamu nikmati sambil mengistirahatkan badan dan kaki

Sayur becek, atau biasa kita kenal dengan gulai
Sayur becek, atau biasa kita kenal dengan gulai
Pada zaman dahulu, kuliner ini hanya dibuat sebagai jamuan makan bagi orang yang sedang merayakan hajat di pedesaan. Namun saat ini, sayur becek sudah banyak dijual di warung-warung makan di Grobogan. Sayur becek ini terdiri dari iga sapi, maupun balungan (tulang). Mungkin karena ketika makan pasti belepotan maka diberilah nama sayur becek, seperti tanah yang tergenang air — jadi becek. Hehe.


8. Kamu juga bisa menikmati nasi Jagung dan Botok Yuyu, hidangan sederhana yang akan menambah nafsu makanmu

Nasi jagung dan botok yuyu
Nasi jagung dan botok yuyu
Seperti namanya, nasi jagung memang terbuat dari jagung yang digiling halus, direndam, baru kemudian dikukus. Sedangkan botok yuyu adalah makanan yang terbuat dari yuyu (baca:kepiting sawah) yang dimasak menggunakan bumbu botok. Biasanya sih makanan ini juga dilengkapi bersamaan dengan keripik udang.


9. Kalau kamu penggemar makanan ekstrem, cobalah cicipi makanan khas Grobogan: Swieke

Olahan katak
Olahan katak
Swike atau swieke sebenarnya adalah teknik mengolah daging. Jadi dagingnya bisa berasal dari hewan apa saja, dari bebek hingga ayam. Tak harus kaki katak yang akhirnya dihidangkan.
Jadi jika kamu tak memakan daging katak, jangan khawatir. Ada juga kok restoran yang menjual swieke halal di Purwodadi. Kamu hanya perlu bertanya pada pemiliknya saja. Jangan sampai ketinggalan nikmatnya perpaduan jahe, bawang putih, dan merica dalam kuah bumbu swieke yang khas. Kalau ke Purwodadi dan nggak makan swieke, kamu termasuk golongan merugi!

Sudah terbukti, bukan, kalau Grobogan menyimpan berjuta keindahan? Jadi kapan nih kamu mau mengunjunginya?



😀
Source

Cara Bisnis UKM Bertahan Ketika Krisis Ekonomi

Cara Bisnis UKM Bertahan Ketika Krisis Ekonomi, Kehidupan Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah kehidupan usaha mikro yang berbasis kepada manfaat dan pengembangan sumber daya minimal tapi berpotensi besar untuk menjadi sumber kekuatan ekonomi bangsa. Contoh sederhana, saat krisis ekonomi bangsa di Tahun 1998, pernah mendengar banyak perusahaan yang gulung tikar karena perubahan drastis dollar kepada rupiah, bukan ? Tapi tidak pernah terlintas di benak kita bagaimana ibu-ibu penjual gudeg di Jalan Malioboro Yogyakarta tetap bisa tegar berjualan atau pengrajin ukiran di Jepara dan Bali bisa mempertahankan bisnis dan usaha mereka saat krisis alias padahal fluktuasi dari rupiah yang terus melemah menjadikan banyak dari kita yang sebagai karyawan harus ikhlas dirumahkan.
berdasarkan yang saya kutip dari kompasianadotcom inilah beberapa Tips Cara Bisnis UKM Bertahan Ketika Krisis Ekonomi segi internal UKM itu sendiri yang pernah saya amati dan jalankan sehari-hari.

Cara UKM Bertahan

1. Bagi hasil dengan pekerja atau karyawan/staff.

Sepertinya mungkin masih belum begitu banyak usaha kecil yang melakukan sistem pembagian hasil dengan karyawannya sendiri yang bekerja sama dengan sang pengusaha. Cara mudah memahaminya , saat pengusaha mengalami keuntungan dalam pekerjaan, maka untung yang didapat itu juga bisa diberikan kepada karyawannya. Atau mungkin bila dengan cara kami di bengkel yang kami kelola adalah saat akhir hari kerja (sore), omzet yang didapat, langsung saya berikan 2,5% nya untuk karyawan yang masuk ( ini meliputi kerja knalpot dan servis) dan 25% untuk pekerjaan understell (kaki-kaki mobil seperti servis Tierod, Ball Joint, dll). Itu terus kami lakukan setiap hari.

Artinya karyawan memang harus bisa tetap memegang uang setiap hari, di luar gaji bulanan yang tetap sebagai haknya. Hitung-hitung mereka bisa tetap bisa beli bensin untuk pulang pergi bekerja.

Langkah yang saya ambil ini ternyata di luar dugaan membawa banyak kebaikan buat karyawan. Mereka menjadi tertantang untuk bisa mendapat bonus setiap harinya dari pekerjaan mereka. Setiap hari, ada 1 karyawan bisa membawa pulang uang 100 ribu sampai 250 ribu dari hasil kerja mereka. Dan akhirnya banyak karyawan kami yang tadinya belum punya kendaraan roda dua (motor) bisa mengambil cicilan motor. Masuk akal buat saya, karena gaji bulanan utuh, setiap hari mendapat persenan pekerjaan yang lumayan besar. Otomatis, kesejahteraan mereka juga terangkat. Praktis bukan ?

2. Karyawan Harus Terus Mendapat Motivasi dan Inspirasi Dengan Bekal Agama dan Wawasan Kehidupan

Inilah yang mungkin terus dilakukan banyak perusahaan. Karyawan juga manusia. Mereka akan mengalami naik turun semangat bekerja. Saat usaha sedang sepi pelanggan, daripada mereka tidur, maka kami sering mengajak mereka untuk berkumpul dan membaca kitab suci Al Qur'an. Sedangkan yang beragama Nasrani kami beri ruang juga untuk berdoa bersama. Dan yang beragama Hindu melakukan sembahyang di pura kecil yang ada di depan bengkel (biasanya tempat yang kami kontrak, pemiliknya memiliki pura kecil depan toko).

Setiap pagi kami mengajak mereka Shalat Dhuha dan briefing kecil dalam rangka memperkuat ketaqwaan dan motivasi dalam bekerja. Bila bekerja dengan dasar mengingat Tuhan, kami yakin segala sesuatunya akan direstui Tuhan.

3. Silaturahim dan Persaudaraan Antara Pengusaha & Karyawan Harus Terus Terbina dan Terjaga

Karyawan yang diperhatikan kesejahteraannya dan juga kehidupan sosial yang baik dengan atasan adalah modal utama setiap usaha untuk bisa meningkatkan mutu kerja. Pengendalian kualitas kerja tidak akan pernah bisa didapat bila pengusaha bergaya "BOSSY" akan menjadi raja kecil dalam sebuah usaha. Karena raja, maka semua perkataan dan perbuatan tidak boleh dikritisi. Padahal ini zaman bukan Siti Nurbaya lagi , semua serba musyawarah dan harus bisa mufakat bersama karyawan.

Lebih baik, memang tulisan ini saya fokuskan saja tentang cara dari dalam (internal) sebuah UKM bisa mempertahankan keberadaan usahanya di tengah badai krisis ekonomi.

Dari semua inti usaha yang dilakukan UKM memang akhirnya mengerucut kepada sebuah titik dimana akhirnya harus ada CSR (Corporate Social Responsibility) dari pelaku usaha itu sendiri. Walaupun laba kecil, saya memperhatikan bahwa UKM ternyata lebih berani menyisihkan CSR mereka untuk kepentingan sosial lingkungan nya.

Dalam kisah sederhana, mungkin kita tidak akan asing dengan kisah penarik becak yang bisa berangkat haji dengan cara yang unik. Yakni ia menggratiskan penumpang khusus pada Hari Jumat. Atau tukang bubur yang menyisihkan hasil penjualannya sebagian untuk diberikan kepada yayasan yatim piatu, sebagian untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Menakjubkan memang cara UKM untuk bertahan di tengah badai.

"bolehlah kita berpendapat "Iya saja kegiatan ekonomi UKM tidak berhubungan langsung dengan pinjaman dollar" tapi di atas semuanya itu ternyata UKM bertahan di tengah badai karena mereka memanusiakan manusia lain".

Boleh jadi, penjual warteg akan memberi kemudahan pembeli dengan memperbolehkan hutang dulu, atau harga miring nasi bersama lauk pauknya akan menolong beberapa mahasiswa kost yang belum mendapat kiriman dari orang tuanya atau karyawan yang masih menunggu gajian.

Nasi kucing, nasi jinggo, nasi murah lainnya adalah salah satu produk yang memberi contoh pada kita kalau UKM bisa menolong rakyat bertahan dalam kekurangan.

Itulah sebab yang terjadi. Karena UKM yang bertahan lama adalah UKM yang berbagi dengan sesama.

"Tuhan akan menolong manusia yang masih mau menolong manusia lain".
Source

Top